Cerita Reaktif Covid Tidak Bisa Terbang walaupun hasil PCR sudah Negatif

 Jadi aku mau cerita mengenai covid ini, kita keluarga berencana mau ke Bali, di hari kamis pada waktu itu, berangkat jam 7 pagi. Trus kita pcr lah satu hari sebelum berangkat, yaitu di hari rabu jam 3 sore. Hasil PCR keluar di hari kamis jam 1 subuh. Nah kita udah packing2 lah ya malamnya. Jam 1 subuh aku buka WA salah satu dari kita yaitu mamakku hasilnya reaktif, seketika aku gemetar dan lemas, diam sebentar, trus aku berusaha menenangkan diri, kebetulan aku baca ayat yang mengatakan kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. (1 petrus 4:7). Ok evita kamu harus tenang, setelah itu aku berdoa, Tuhan apa yang harus aku lakukan ini, trus aku forward hasilnya ke kakakku yang kebetulan dia lagi bangun nyusui anaknya. Dia juga panik, trus gimana ini, aku juga takut waktu itu. Sambil WA an sama kakakku, kita atur skenariolah, gini aja, aku bilang aja lah, hasil pcr kita gak dikirim jadi gak bisa kita terbang, itu aja kita bilang nanti pagi, lagian CT Valuenya 33, aku cari informasi di internet apakah ini berbahaya atau tidak. eh ternyata gak terlalu bahaya dan gak menularkan.

Trus mamakku udah bangun jam 4 subuh mau beres2 trus aku bilang kayaknya mak, gak jadi kita berangkat karena hasil PCR belum keluar. Aku dimarahin memang, lah kekmana nya kau, gak bisa kau pastikan dari kemarin2, aku yang salah sih itu, karena kita PCR satu hari sebelum berangkat, harusnya dua hari sebelum berangkat biar hasilnya keluar satu hari sebelum berangkat, aku yang salah itu, tapi mau gimana ini belum dikirim juga, aku bohong pada saat itu. Untungnya mereka rada2 percaya, ywd tidur lagi lah kita, tapi mengenai tiket, hotel, dll udah aku cancel semua pagi itu juga, untungnya masih bisa cancel semua dengan melampirkan dokumen yang reaktif. 

Trus jam 7 pagi, aku bilang sama kakakku, ywd aku jujur aja lah ya, aku bilang aja hasilnya reaktif supaya mamak gak down kubilang ajalah aku positif juga biar ada temannya, ywd aturlah kata kakakku. Trus pas sarapan kudekati mamakku duduk dan aku udah berpikir ywd gpp tertular ajalah samaku, trus aku bilang lah, mak udah keluar hasilnya tapi reaktif kita dua, makanya mungkin lama dikirim hasilnya karena reaktif itu nya itu, trus apa yang mamak rasakan sekarang, attar kubilanglah aku sebenarnya sesak kurasakan , maksud hati biar jujur mamakku ngomong apa yang dirasakan, soalnya kalau ada teman yang sakit lebih pede cerita setauku gitu. eh ternyata gak ada apa2 yang dirasakan, malah di bilang ah mancam nai tahe, kutanya lagi, lagi diare gak mamak?, gak. Batuk?, gak. Penciuman? Kebetulan ada jeruk di depanku, kuminta di ciumnya, bau jeruk katanya, sesak gak bernafas, gak. Hidung mampet gak mak, gak. Ooo ywd lah yang salah nya par klinik itu mungkin karena ct valuenya 33 memang pikirku, untuk memastikan paginya jam 10 di hari kamis, mamakku PCR lagi di klinik yang lain, hasilnya keluar di hari jumat jam 3 sore dan negatif. Awalnya klinik tersebut menjanjikan hasilnya keluar jam 3 sore tapi sampe jam 5 aku tunggu gak ada juga, gak dikirim ke WA, akhirnya aku pergi ke klinik tersebut, dan ternyata petugasnya lupa mengirim hasilnya, aku sempat marah2 juga karena gak dikirim2 hasilnya, karena PCR mamakku udah negatif ywd aku pun langsung membeli tiket untuk berangkat besok paginya di hari sabtu jam 7 pagi. Sempat kesal juga kenapa bisa reaktif hasil PCR yang pertama jadi terkendala semua rencana, tapi aku selalu berpikir, pasti ada yang diajarkan Tuhan samaku disini, trus kami coba lagi lah untuk berangkat ke Bali di hari sabtu jam 7 pagi. Trus kita swab antigen lagi dihari jumat malamnya, yaitu aku, bapakku dan ponakanku, dan salah satu diantara kita ada yang positif lagi yaitu ponakankku, trus kita ke klinik lain, hasilnya negatif, tapi di peduli lindunginya udah sempat dibuat positif dan warna hitam dan itu udah di jam 10 malam. Trus kita pulang kerumah, diperjalanan mau pulang kerumah aku di telpon untuk membeli labu siam karena tensi mamakku naik. Jadi kami ke pasar yang buka dulu. Disitu aku rada2 khawatir, kekmana lah ini ya, aku mau bawa jalan2 tapi kondisi mamakku lagi gak fit. Yang kebetulan kakakku bisa nge tensi, jadi di tensi 180, jadi isi koperku yaitu parutan labu siam dan 4 labu siam, hahhaha. Seandainya kami jadi berangkat besok di hotel kuparut aja lah pikirku.

Besok paginya pada saat kita mau ke bandara di tensi kakakku lagi masih naik, trus aku tanya mamakku, gimana perasaanmu mak, enaknya, aku juga gak mau memaksakan kehendakku, jawabnya iya gpp aman kok, trus suami kakakku udah mau mengantar kami ke bandara, tapi kartu e toll nya habis, indomaret gak ada yang buka subuh2, aku coba pakai NFC hp ku gak bisa di top up, jadi solusinya ywd naik grab aja lah, sambil menunggu naik grab, berdoa lah kami supaya di lancarkan semuanya, eh ternyata di bandara hasil verifikasi di tolak karena harus isoman dulu 14 hari yang sudah pernah positif walaupun hasilnya negatif, aku udah bermohon2 sama petugasnya tapi tetap juga gak bisa, udah kucari juga infomasi mengenai apakah bisa terbang yang sudah pernah positif dibawah 5 hari dan hasilnya udah negatif, banyak di twitter yang bilang bisa terbang asalkan membawa hardcopy hasil negatif.Tapi di bandara di tolak walaupun aku sudah menunjukkan hardcopy hasil negatif, dan hasil komen di twitter.

Tapi apalah daya udah kucoba bernegosiasi tapi petugasnya sama sekali tidak mengijinkan, akhirnya tiket kami aku reschedule lagi dengan penambahan biaya, tapi aku tetap berterima kasih, mungkin gak pas waktunya kami untuk terbang kesana, pikirku. Sambil ku tenangkan orang tuaku, kita ganti di lain hari aja ya, walaupun di dalam hatiku sebernarnya agak kecewa tapi tetap gak aku tunjukkan. Kutelponlah kakakku, gak jadi kami berangkat karena si covid ini, ywd pulang lah kalian banyak kali kendala mulai dari kemarin2 entah gak di ijinkan nya kalian pergi kata kakakku lah, Lalu pulang lah kami dari bandara, sebenarnya gak tega kali aku melihat orang tuaku yang sudah aku janjikan tapi gak bisa aku tepati, sebenarnya mereka juga gak menuntut tapi aku gak enak hati dengan semua ini, kadang aku berpikir kapan lagi aku bawa mereka ya, semoga lah bertemu hari baiknya, aku pasti bisa mewujudkannya.

Dan Akhirnya kesampaian juga, Jesus Thank you






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pasangan Yang Ideal

Semua Hanya Tentang Waktu (Move On)

Berusaha Memahami & Mengerti Orang Lain